Bonny, a New Dog in a Blog

Just another dogblog.com

6th Januari 2011

Ma, kenapa malaikat takut sama aku?

1_671968557l

“Aku sebel dengan pacar baru mama!” Teriakku sekeras-kerasnya.. tentu saja dalam bahasa anjing yang tidak bisa dipahami mama. Tapi aku yakin, mama tahu bagaimana perasaanku ketika akhirnya mama merasa wajib melatihku untuk tidur di luar rumah. Memang sih, akhir-akhir ini aku merasa susah sekali menahan rasa kebelet pipis kalau malam hari, sehingga aku terpaksa mengotori lantai dekat pintu masuk ruang tamu mama. Abis, daripada aku sakit ginjal.. mendingan pipis di lantai ruang tamu deh.. Paling-paling mama cuma memukul pantatku.

Tapi yang bikin aku sebel sama pacar baru mama adalah dia sok alim. Dia bilang, anjing tidak boleh dipelihara di dalam rumah karena malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah kalau ada anjing di dalamnya. Tapi kenapa? Kenapa malaikat, makhluk yang katanya lebih tinggi derajatnya dari aku sampai takut sama anjing? Emang malaikat trauma ya karena pernah dikejar dan digigit anjing? Aneh! Ini Aneh sekali!

Aku memang sempat melihat mata mama sempat berjengit mendengar alasan pacarnya tersebut. Aku tahu, mama nggak rela menempatkan aku agar tidur di luar rumah, lebih tepatnya di halaman rumah, di bawah kanopi dan dekat blower AC. Piuh… pastinya ada udara panas dan dingin bercampur aduk di lokasi baru tempat tidurku. Tapi, sekali lagi.. aku hanyalah seekor anjing, dan pacar mama adalah laki-laki dan wujudnya manusia. Jadi mama pasti lebih mengutamakan emosinya sebagai manusia ketimbang emosinya sebagai penyuka anjing.

Ya sudahlah.. kalau memang ini nasibku. Hari ini.. aku belajar mulai tidur di halaman rumah. Padahal aku sangat sayang sama mama dan tidak ingin mama mati karena aku jauh darinya. Kalau ada aku, malaikat maut kan nggak jadi mencabut nyawa mama. Ah, mama… bodohnya dirimu mempercayai kata-kata pacarmu yang ingin dirimu cepat-cepat mati dan dia bisa segera punya pacar baru lagi…

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

posted in Love and Possesiveness | 0 Comments

26th Juni 2010

Ma….kok ngefans sama orang monyong sih?

jerry-vs-jolieHuaaaaam…nyum..nyum..nyum… sejujurnya aku sudah ngantuk sekali. Tapi mama sepertinya belum kepengen tidur juga. Matanya masih 30 watt terang benderang menatap layar televisi. Sudah 4 bulan ini mama autis sama televisinya dan DVD playernya. Hampir tiap malam, sepulang kerja, sehabis makan malam, mama pasti menghabiskan waktu menonton film seri drama Korea atau Taiwan. Begitu juga kalau hari sabtu dan Minggu. Dan sekali lagi, aku hanya kebagian diuyel-uyel sebentar, dan selanjutnya aku harus berpura-pura tidur di kaki mama. Sebab kalo aku rewel, mama akan mengikatku di teras depan. Dan itu lebih tidak menyenangkan. Lebih baik aku bersikap manis saja selama mama tertawa terbahak-bahak dengan TVnya atau kadang berlinang air mata gak jelas.

Awalnya aku ikut terbawa emosi melihat air mata mama berlinang. Aku menggonggong sekencang-kencangnya. Aku pikir ada sesuatu atau ada seseorang yang menyakiti mamaku tersayang. Ternyata, adegan dalam televisi itu yang membuatnya menangis. Piuh… dunia manusia memang aneh. Mereka senang sekali dihibur dengan tayangan yang membuatnya menangis, meskipun itu hanya tangisan palsu, tapi justru itu yang mereka cari. Mungkin itu adalah salah satu cara untuk membersihkan kotoran di mata dengan lebih efektif dan alami, tidak menggunakan obat-obatan.

Dan satu bulan ini, sejak mama kesulitan melancarkan bahasa Mandarin yang sedang dipelajarinya mati-matian setiap dua kali seminggu, akhirnya mama memilih memperbanyak menonton film drama Taiwan. Dan mamaku tiba-tiba berubah seperti remaja ABG kemarin sore, tiba-tiba demam aktor Jerry Yan. Di toko DVD bajakan dekat rumah kami, mama memborong semua film seri Taiwan yang dibintangi oleh Jerry Yan. Mulai dari Down with Love, Starlit, Hot Shot, dan Hospital. Untung Meteor Garden tidak dibelinya juga. Bisa-bisa layar televisi di rumah kami isinya Jerry Yan terus sepanjang dua bulan ini.

Memang sih, sejak aktif menyaksikan serial drama Taiwan, mama lebih pinter sedikit ngomong Mandarin. Sebelumnya, gru les mandarin mama selalu bilang nggak ngerti dengan ucapan mama, karena logat mama aneh, hihihihi… Mamaku sebenarnya sangat berbakat dalam belajar bahasa asing. Tapi bahasa Mandarin itu bukan bahasa yang mudah untuk dipelajari. Mama sudah pintar menulis dan membaca. Mama bisa mengartikan kalimat yang ditulis dengan bahasa Mandarin. Tapi, jangan deh suruh mama membacakannya dengan bersuara lantang. Lidah mama pasti belibet, dan hasilnya semua orang yang bisa berbahasa mandarin nggak bakalan ngerti kalimat yang mama bacakan. Yah.. mungkin mama masih butuh waktu lama untuk bisa lincah ngoceh dengan bahasa mandarin.

Kembali ke soal Jerry Yan. Dari yang aku denger, hampir semua penggila drama televisi tergila-gila dan ngefans berat sama Jerry Yan. Padahal si Jerry ini usianya sudah 33 tahun, tapi penampilannya dalam film drama seperti baru 25-an. Dan mama, yang usianya tidak terpaut jauh sama Jerry Yan, merasa bukan hal yang salah untuk ikut tergila-gila dengan Jerry Yan. Kata mama, kalo Jerry Yan umurnya masih 20 tahun, nah itu baru mama bersalah jika mengidolakannya. Padahal, apa asih hebatnya si Jerry itu?

Mama bilang si Jerry itu adalah monyong yang tampan. Monyong??? Definisi monyong itu kalo gak salah mulut yang agak maju, dan bibir tidak bisa ditutup rapat karena struktur gigi seri bagian atas agak maju. Kira-kira mirip dengan aku ya, ma? Aku kan jenis anjing pudel, jadi moncongku lancip, tapi aku bisa menutup bibirku rapat-rapat, tidak seperti Jerry Yan.

Entahlah.. mengapa artis yang dikatakan sexy itu cenderung monyong alias suka membuka bibirnya ketika di foto. Coba lihat si Angelina Jolie. Dia juga nggak bisa menutup bibirnya rapat-rapat. Jadi, bibir yang sedikit membuka itu lah yangtermasuk kategori sexy. Dalam hal ini, si Jerry itu beruntung, nggak perlu berlatih membuka bibir sedikit, bibirnya pasti nggak bisa menutup rapat karena memang struktur gigi dan rahangnya membuatnya harus sedikit monyong. Dan itulah dia, si monyong yang tampan.

Sudah ah.. aku ngantuk. Aku mau latihan monyong dulu, biar perhatian mama kembali hanya untukku, yang nyata di depannya, bukan yang cuma bisa gerak-gerak di layar kaca saja.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

posted in just for fun | 1 Comment

1st Maret 2010

Bila majikan tidak ada…

Semua yang judulnya hubungan antara majikan dan pembantu, semuanya pasti menghasilkan hubungan yang tidak seimbang. Salah satu sisi pasti ada yang merasa ditekan atau bahkan kemerdekaannya dirampas. Aku gak akan membahas terlalu dalam soal ini, meskipun gak semua berlaku secara general, tapi secara umum, yang namanya pembantu selalu berada posisi diperintah, jadi bawahan, selalu ketakutan, dan selalu berusaha cari muka pada majikan untuk menunjukkan bahwa mereka berprilaku baik dan santun, yang pada akhirnya ujung-ujungnya adalah kenaikan gaji, bonus, atau minimal tidak diberhentikan alias dipecat.

Meskipun dalam species yang berbeda, dan dalam posisi job desc yang berbeda, aku sebagai anjing pun merasakan hal yang sama. Majikanku adalah mamaku, orang yang memeliharaku sejak kecil, memberiku makan, dan mengajakku bermain. Tugasku pada mamaku adalah menjadi hewan peliharaan yang manis, patuh pada perintah, dan dapat menghibur mama di kala mama merasa butuh dihibur. Selain itu, aku juga harus menjadi alarm pertama dalam fungsi menjaga rumah mama.

Sama saja seperti pembantu rumah tangga atau karyawan kantoran, kalau bos atau majikan ada, pembantu harus duduk dan bersikap pada tempatnya. Aku tidak boleh “ngelunjak” dan mencoba-coba duduk-duduk di sofa kesayangan mama.

1_553353148l

Begitu majikan pergi, nah inilah saatnya berpesta! Pembantu sudah susah-susah menjaga “kandang”, masa’ gak boleh menikmatinya? hehehe…. Termasuk mencoba baju-baju milik majikan dan bergaya layaknya bos di rumah sendiri. Hehehe…. Untungnya aku hanyalah seekor anjing, jadi aku gak bisa memakai baju mamaku. Yah.. paling-paling aku cuma bisa mengunyah sandal kamarnya. Dan beginilah gayaku, bila mama tidak ada. Akulah sang penguasa sofa kesayangan mama, hahahaha….

1_843690307l

1_700041484l

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

posted in Master and Slave | 0 Comments

23rd Februari 2010

Aku pengen kawin, ma!!!!!

bonny dan bola

Ya ampun… tiba-tba aku jadi gelisah. Tadi malam aku dengar si Goldy tetangga depan rumah sudah melolong-lolong. Apakah ini sudah masuk musimnya ya? kayaknya sih iya. Udara sudah mulai dingin. Hampir tiap hari hujan turun. Dan rasa-rasanya, aku mulai “haus” endusan anjing jantan. Aduh…. di mana ya ada anjing jantan? Satu-satunya hewan berkaki empat yang ada di sekitarku adalah Cheetah, seekor kucing persia. Dan apesnya, Cheetah juga betina. Kadang aku jengkel sama mama, kenapa sih yang boleh menghuni rumah ini semuanya betina? Mbok ya mama piara anjing jantan juga di sini. Kalo mama khawatir aku akan hamil dan beranak pinak, menurutku itu kekhawatiran yang berlebihan. Mama kan bisa piara aja anjing jantan yang tinggi besar, dijamin ma, dia bakal pusing dan stres, bingung memikirkan cara supaya bisa menunggangiku, karena aku kekecilan untuknya.

Aduh ma… aku beneran pusing nih. Kayaknya memang aku harus menyalurkan hasratku ma. Apa yang harus kulakukan nih… Kalau musim kawin tahun lalu, aku tahu apa yang menjadi pelampiasanku.  Mengawini tas merah itu memang mengasyikkan sekali. Tapi mama dengan teganya merengut tas itu dariku dan berkata,

“Bonny! ini tas buat bawa-bawa kamu ke dokter, gak boleh kamu kawinin. Jadi bau deh… nakal ya kamu!… sana, maen kawin-kawinan sama Cheetah saja!”.

Tuh kan.. sebenarnya yang membuat aku jadi mengalami kelainan seksual itu mama. Masa’ anjing disuruh kawin sama kucing, dan kucingnya betina. Dan sialnya, Cheetah pas saat itu lagi “pengen” berat. Jadilah kejadian yang tidak diinginkan olehku tapi diinginkan oleh Cheetah itu terjadi. Itu benar-benar aib buatku. Tapi sudahlah… meskipun aib, aku pun menikmatinya.

Hm.. jadi, sebaiknya musim kawin tahun ini aku kawinin apa ya? Hey… aku baru ingat kalau punya bola kuning. Di mana ya mama menyimpan bola kuningku? ah iya! Ada di bawah tangga! Mari bermain dengan bola kuning. Geser… geser… dan hup! aku menunggangi bola kuning! Ah…. jangan ganggu aku dulu ya.. aku lagi enak nih…

1_504605866l

1_939336987l

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

posted in just for fun | 4 Comments

19th Februari 2010

Siapa bilang anjing dan kucing selalu musuhan?

img_1379

Aku heran, sama seperti teman-teman mamaku yang terheran-heran memperhatikan kecintaanku pada kucing bernama Cheetah, teman serumahku. Dan kalau aku bertemu teman-temanku di luar, teman-teman sesama species anjing, aku mendengar mereka bergosip di belakangku,

“Itu tuh.. yang namanya si Bonny. Anjing itu mengalami kelainan jiwa. Selain hobbynya bermain dengan kucing, aku dengar, dia juga hobby meniduri kucing teman serumahnya. Tahu gak, kalo kucing itu ternyata juga betina seperti dirinya?”

4294_1063846677814_1275393963_30144781_253456_n

Aku tetap saja berjalan dengan pura-pura tidak memperhatikan mereka. Hanya seekor anjing kampung betina berwana hitam yang biasa mengemis di pagar rumahku saja yang mau bicara denganku sekarang. Orang-orang biasa memanggilnya dengan nama Si Dam. Dam artinya hitam (bahasa Thailand, red).  Dam menasihatiku agar aku jangan terlalu dekat bergaul dengan kucing. Dam bilang, menurut legenda yang selalu diceritakan oleh neneknya, kucing itu binatang yang licik, sombong, dan pemalas. Kucing tidak pernah akur dengan anjing, selalu mencuri makanan anjing, dan selalu mencakar anjing jika anjing berusaha mengenalnya lebih dekat. Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar nasihat Dam.

Aku bilang pada Dam, bahwa aku nggak pernah merasa bahwa kucing di rumahku itu sebagai suatu ancaman buatku. Cheetah terlalu baik dan sayang padaku. Dan bahkan, aku yang merawat Cheetah sejak dia masih kecil. Cheetah pun menyayangiku. Setiap kali habis mandi, dan bulu-buluku belum kering sempurna, Cheetah selalu membantuku mengeringkannya. Cheetah selalu menjilati mukaku. Lalu Dam berkata, “kau jangan membiarkan Cheetah menjilati mukamu.. nanti lama-lama Cheetah akan menikmati rasa dagingmu, dan akhirnya dia jadi ingin memangsamu. Lihat saja, tubuh kalian berdua nyaris sama besarnya. Aku nggak percaya kucing itu hanya kucing rumahan biasa. Aku yakin, kucing itu ada turunan cheetah beneran, sampai-sampai dia pun memliki nama panggilan Cheetah.”

Aku pikir, lama-lama bergaul dengan Dam, maka ia akan memberikan pengaruh buruk buatku. Sejak mendengar nasihat Dam yang terlalu berlebihan itu, aku jadi malas bicara dengannya lagi.

Aku sangat mencintai Cheetah dan tahu bagaimana seharusnya bersikap layaknya seekor anjing rumahan yang tinggal serumah dengan seekor kucing persia. Jadi kupikir, aku tidak akan memperdulikan gosip apa pun lagi di sekitarku, dan aku akan menjalani kehidupanku yang memang selama ini hanya ditemani oleh Cheetah. Aku berharap, dengan jarangnya Cheetah berinteraksi dengan kucing atau pun anjing lain, dia tidak akan pernah mendengar gosip-gosip miring tentang itu, termasuk legenda kucing dan anjing yang selalu bermusuhan. Aku berharap, mama selalu menjaga Cheetah sebaik-baiknya, dan jangan pernah membiarkan Cheetah bergaul dengan hewan mana pun, kecuali dengan aku. Titik.

PS: Cheetah, I love you so much..

4294_1063846637813_1275393963_30144780_8089267_n

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

posted in Love and Possesiveness | 17 Comments

17th Februari 2010

Who let’s the dog out???

Mamaku sedang malas mengajakku jalan-jalan pagi.  Sepanjang pemahamanku sebagai seekor anjing, mamaku sepertinya sedang jatuh cinta dengan benda berbentuk kotak pipih, banyak gigi-gigi kecilnya, dan mama selalu tersenyum memandangi benda itu, dan sesekali benda itu berbunyi atau mengeluarkan sengatan yang membuatku terkejut. Kadang-kadang mama mengangkat benda itu ke telinganya, lalu berbicara sendirian. Yang pasti, sejak mama punya mainan baru itu, mama kelihatan lebih sibuk dengan benda itu ketimbang memperhatikan kebutuhan-kebutuhan biologisku.

Baiklah, aku jalan pagi sendirian. Mama membukakan pintu pagar rumah, memberi kepercayaan padaku bahwa aku tidak akan berjalan terlalu jauh atau bahkan kabur dari rumah. Tapi memang begitulah kenyataannya. Aku tidak suka pergi jauh-jauh dari rumahku jika aku sendirian. Bukan berarti aku penakut, tidak.. aku nggak penakut sama sekali. Aku hanya tidak terlalu berani melakukannya.

Dan seperti biasanya, baru beberapa langkah dari gerbang rumahku, perutku mules. Dan mulai deh.. aku menungging-nungging, mengeluarkan hasil pencernaanku tadi malam. “arghhh…” Lumayan, ada 3 potong. Perutku lega sekarang. Aku mengais-kais kaki belakangku, kira-kira inilah insting anjing menimbun kotorannya. Walau aku tidak yakin, apakah kotoranku bisa tertimbun atau tidak. Aku hanya menjalankan rutinitas, keahlian dan keharusan yang sudah kudapatkan begitu saja. Aku bahkan lupa, kapan aku belajar menimbun kotoranku dengan pasir. Tapi disini, tidak ada pasir. ini jalanan beraspal. Jadi, ya… mohon maaf.. seseorang harus memungut kotoran itu dan membuangnya ke tempat sampah supaya tidak ada yang terkena ranjau daratku.

Tiba-tiba aku mendengar ada yang berteriak. Aku nggak paham orang itu ngomong apa.  Yang pasti orang itu seperti mengomel-ngomel sambil menunjuk-nunjuk kotoranku. Aku menelengkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Aku sudah mencoba memahami apa perkataannya. Sejauh ini, aku memang sudah bisa memahami beberapa perkataan manusia, seperti “duduk”, “main bola”, “loncat”, “makan”, “tidur” dan satu perintah yang paling aku nggak suka, yatu “keluar”. Ya, sepertinya ucapan orang ini dalam bahasa asing yang belum aku kuasai. Dari gestur tubuhnya pun aku tidak paham apa yang dia harapkan aku lakukan. Aku mencoba menarik perhatiannya dengan berdiri dengan dua kaki belakangku sementara dua kaki depanku melayang-layang di udara menggapai-gapai. Ternyata orang itu msih saja nyerocos nggak karuan. Ah.. sudahlah… aku pulang saja. Dan aku melihat dari sudut mataku, orang itu mengikutiku. Dan begitu aku lari ke dalam rumah, orang itu memencet bel pintu. Mendengar bel pintu, aku seperti kebiasaanku, di wilayah kekuasaanku sendiri, aku akan menggonggong sekuat-kuatnya. Dan mama akhirnya keluar dan berbicara dengan orang tadi. Kuliaht wajah mama seperti merasa bersalah. Mama kemudian mengambil kantong plastik, dan berjalan keluar. Dan… ah.. akhirnya aku mengerti. Mama, orang tadi meminta kau harus memungut ‘itu’. Yes!!!!

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

posted in just for fun | 0 Comments

16th Februari 2010

A Dog in Blog, it’s me….!!!

bonny

Woof…woof..woof…

Well… itu adalah salam dariku,  seekor anjing mungil blasteran pudle dan entah ras apa lagi yang ada dalam tubuhku. Di saat semua hewan peliharaan mulai asyik ber-twitter ria, aku malah baru mau sibuk ber-blog ria. Aku tidak terlalu suka twitter, meskipun si Sockington jadi mendunia gara-gara akun twitter-nya, aku nggak mau ikut-ikut. Aku adalah aku, Bonny yang selalu ingin tampil beda.

Aku sudah berhasil memaksa tanteku untuk mengubah akun facebook-nya menjadi milikku. Ya, tanteku adalah satu-satunya penggemar fanatikku. Mamaku saja kalah. Mamaku memang yang memeliharaku, memberi makan aku setiap hari, tapi tetap saja, tanteku yang paling heboh soal mempublikasikan foto-fotoku bersamanya.

Kalau kupikir-pikir,  seharusnya tanteku itu menjadi dokter hewan, atau mungkin susternya dokter hewan, atau bisa juga pemilik penginapan anjing dan kucing. Hanya tanteku yang begitu sabar dan telaten mengikuti mauku, nggak seperti mama. Begitu mama mengancungkan telunjuknya, aku harus segera menjadi anjing cerdas, memusatkan otak-otakku, apa kira-kira yang sedang diucapkan padaku. Jika aku tidak paham, aku harus segera menyiapkan otot-otot kakiku, berlari kencang menghindari tamparannya di pantatku. Ini bagian yang paling kubenci menjadi seekor anjing. Tapi di luar semua itu, aku bahagia ditakdirkan terlahir sebagai seekor anjing. Ya, kira-kira setelah aku wafat nanti, menurut kepercayaan orang Tibet, aku akan bereinkarnasi menjadi seorang manusia, tapi itu ada syaratnya, yaitu aku harus menjadi anjing yang baik sepanjang hidupku. Ya..ya…ya… aku tidak bisa menilai diriku sendiri, apakah aku sudah cukup baik atau tidak. Setidaknya, apa yang kudapatkan saat ini adalah kenyamanan.

OK, hari ini aku berharap mamaku cepat pulang, sehingga aku bisa jalan sore bersamanya, dan mengosongkan saluran pencernaanku yang mulai penuh ini, supaya nanati malam, aku bisa makan mangga sepuasnya. Oh… I really love mango..

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google

posted in just for fun | 1 Comment